Sebuah ironi memang Bahasa daerah kok malah menjadi bahasa asing di daerah sendiri.
Tetapi Seiring dengan perkembangan zaman, kebudayaan bangsa juga mengalami pergeseran dan perkembangan dari berbagai hal dan sudut pandang. Hal ini terjadi karena fase yang dijalani oleh setiap individu dalam berbagai generasi itu berbeda.

Tanpa kita sadari rasa nasionalisme yang dulu begitu menggebu di dada pahlawan kurang mendapat apresiasi dari kita para generasi muda. Banyak hal yang melatarbelakangi keadaan tersebut, dari gerusan arus globalisasi hingga modernisasi.
Lihat saja realita yang ada, bahasa yang merupakan identitas bangsa semakin lama terus tergusur, apalagi setelah adanya penetapan bahasa internasional, para generasi muda pun merespon dengan baik keadaan tersebut, mereka semakin berbondong-bondong untuk mempelajari bahasa internasional itu. Tanpa disadari pula, dari sinilah muncul suatu permasalahan yang merupakan polemik penting dari kekhasan suatu daerah.

Bahasa daerah yang semakin lama semakin terabaikan mulai merajai kehidupan para generasi muda, ditambah pada pendidikan setingkat SMA/ MA bahasa daerah tidak lagi masuk ke dalam kurikulum formal. Bahkan tidak ada dalam kurikulum non formal sekalipun, padahal dampak dari semua ini sangatlah menjadikan masyarakat semakin minim pengetahuan akan ciri khas daerah yang di tinggalinya.
Oleh karena itu, Kita semua sebagai Orang Indonesia asli jawa Harus bangga dengan budaya dan bahasa kita sendiri, Jangan kalah dari orang asing. Mereka saja sangat terkagum – kagum dengan budaya kita yang menurutnya sangat unik, artistik, dan berharga .

oleh karena ituuntuk meningkatkannya dibutuhkan kerja sama dari berbagai pihak yang terkait. Sehingga pelestarian kebudayaan indonesia khususnya dalam hal pelestarian bahasa daerah dapat tercapai sesuai tujuan.